Assalamu’alaikum warahmatullah
Ikhwatal islam-semoga Allah merahmati kalian-, pada kesempatan kali ini, insyaAllah saya akan menuliskan sebuah artikel mengenai bagaimana caranya menjadi muslim seutuhnya. Menjadi seorang islam yang berpegang teguh kepada apa-apa yang ditinggalkan Rasul-Nya kepada kita.
- Sembahlah Allah saja
- Mencintai Allah dan Rasul-Nya
TAUHID merupakan inti, pokok, dan dasar dari ajaran agama.
Setiap nabi yang diutus oleh Allah, ketika menemui kaumnya, ajaran tauhidlah yang diserukan pertama kalinya. Sebagaimana firman Allah
Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.
Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (QS Asy Syu’araa’: 105-108)
Nabi Nuh � diutus Allah Ta’ala ketika manusia menyembah berhala dan tenggelam dalam kesesaan dan kekafiran. Kemudian Allah � mengutusnya sebagai rahmat umat manusia. Dan dakwah mengenai apakah yang beliau ‘alaihissalam serukan kepada kaum mereka? Yaitu perintah untuk menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Kaum ‘Aad telah mendustakan para rasul.
Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (QS Asy Syu’araa’: 126-129)
Ikhwatal islam, Nabi Hud ‘alaihis salam diutus oleh Allah kepada kaum ‘Aad, yaitu kaum yang mereka membangun rumah- rumah yang besar di tempat-tempat yang tinggi dengan taman-taman yang indah, mereka bangga dengannya. Mereka sangat bangga dengan diri mereka dan dengan apa-apa yang mereka punya. Maka datanglah Nabi Hud ‘alaihis salam kepada mereka. Namun apakah yang beliau ‘alaihis salam dakwahkan kepada mereka pertama kalinya? Bukanlah Nabi Hud langsung menyuruh mereka untuk tidak berbangga dengan apa-apa yang mereka punya. Tapi, tetap, Nabi Hud menyerukan “Sembahlah Allah, bertakwalah kepada Allah.” kepada kaum ‘Aad yang senang berbangga-bangga.
Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul.
Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (QS Asy Syu’araa’: 141-144)
Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul,
ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?”
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (QS Asy Syu’araa’: 160-163)
Wahai kaum muslimin, bukankah Nabi Luth ‘alaihis salam diutuskan kepada kaumnya yang suka berhubungan dengan sesama jenisnya-homoseksual-. Namun, tidaklah Nabi Luth ‘alaihis salam datang kepada kaumnya pertama kali kecuali menyerukan kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah. Padahal kaumnya merupakan kaum homoseksual. Namun hal tersebut tidak menjadikan Nabi Luth ‘alaihis salam untuk tidak memprioritaskan dakwah tauhid. dakwah untuk menyembah Allah dan bertakwa kepada Allah.
Penduduk Mad-yan telah mendustakan rasul-rasul;
ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?,
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.
maka bertakwalah kepada Allah dan ‘taatlah kepadaku; (QS Asy Syu’araa’: 176-179)
Wahai kaum muslimin yang dirahmati Allah, mungkin tersirat di benak kalian pemikiran bahwa, “Tentulah dakwah tauhid tidak lagi menjadi prioritas di zaman ini. Bukankah kita sudah islam dan itu berarti kita telah menyembah Allah karena kita terlahir dalam keadaan islam.” Namun sungguh, tidak setiap muslim memiliki tauhid yang murni. Tidak semua muslim melaksanakan rukun ‘laa illaha illallah’ ketika mereka mengucapkannya. Bukan tanpa bukti, hal ini bisa kita lihat dari banyaknya kaum muslimin yang terjerumus dalam kesyirikan. Dari syirik yang besar sampai syirik yang paling kecil. Dari meminta kepada wali-wali yang sudah meninggal, mempercayai bintang bintang *horoscope*, sampai melakukan perbuatan riya(syirik kecil)-semoga kita dihindarkan darinya-.[penjelasan mengenai syirik bisa dilihat di sini ]
Bukankah sering kita lihat iklan-iklan di televisi yang menganjurkan kita untuk percaya pada primbon-primbon, atau pada peramal-peramal yang mengatakan akan meramal nasib kalian berdasarkan nama kalian, tanggal lahir kalian, sampai nomor handphone kalian? Sungguh apabila kaum muslimin telah memurnikan tauhid mereka, tidak akan ada iklan-iklan seperi ini bermunculan di televisi. Bukankah juga sering sekali kita temukan aplikasi-aplikasi di mana kita disuruh untuk memasukan nama dan tanggal lahir kita dengan nama dan tanggal lahir orang lain, lalu aplikasi tersebut menampilkan seberapa besar kecocokan hubungan antara kalian? Sungguh apabila kaum muslimin memahami, bahwa tidaklah manusia menngetahui yang ghaib, hanya Allahlah yang mengetahui perkara ghaib. Bahkan, tidak juga Rasulullah mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah Allah beritakan kepada beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam.
“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang hal ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”. (QS. Al-Jinn: 26-27)
Sungguh tauhid banyak dilupakan oleh kaum muslimin dewasa ini.
Maka simaklah firman Allah
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman:13)
Bukankah Luqman Rahimahullah adalah wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang taat, shâlih, dan bijaksana, yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai keutamaan, berupa kecerdasan akal, kedalaman pemahaman terhadap Islam, sifat pendiam dan tenang, serta hikmah dalam berkata-kata?[Lihat al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur‘ân (14/56), Zâdul-Masîr (6/318), Tafsîrul-Qur‘ânil-’Azhîm (6/334-335). Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta’wîli Âyil-Qur‘ân (21/80)]. Tidak dapat diragukan bahwa ia adalah seorang Muslim yang sungguh mulia. Namun, apa yang ia ajarkan kepada anaknya? Yaitu adalah tauhid, agar anaknya yang sangat ia cintai tidak menyekutukan Allah karena beliau Rahimahullah tahu, bahwa taugid adalah perkara yang sungguh penting.
Simak pula ketika Rasulullah menasihati sepupunya, ‘Abdullah bin ‘Abbâs radhiallahu’anhu yang saat itu umurnya masih sangat belia.[Umur beliau saat itu kurang dari 15 tahun. Syarhul-Arba’în an-Nawawiyyah Syaikh Muhammd bin Shâlih al-’Utsaimîn, hlm. 201.]
‘Abdullah bin ‘Abbâs radhiallahu’anhuma berkata, yang artinya: Pada suatu hari, aku pernah dibonceng oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan beliau bersabda: “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di depanmu. Jika kamu ingin meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika kamu ingin memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat bergabung untuk memberikan sebuah manfaat kepadamu, mereka semua tidak akan bisa memberikan manfaat itu kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Dan jika mereka semua bergabung untuk memberikan sebuah madharrat/ bahaya kepadamu, mereka semua tidak akan bisa memberikan madharrat/bahaya itu kecuali jika Allah telah menetapkannya (pula) untukmu. Pena telah diangkat, dan buku catatan (amal) telah kering’.”
Lihatlah bagaimana kaum muslimin mempercayai hal-hal yang mereka sebut dengan ‘pamali’. Di mana mereka mengatakan ‘jangan berisik ketika makan pada sebuah piring*ketika piring bertemu dengan sendok, berbunyi seperti ~tang tang tang* , karena jika begitu, orang tuamu akan terlebih dahulu meninggal daripadamu’. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. [pembagian tauhid lihat di sini]
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah : 186)
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Sesungguhnya mencintai Allah dan tidak mencintai yang lainnya melebihi cintanya kepada Allah merupakan bagian dari tauhid.
Sementara sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam
“Tidaklah beriman seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”(HR. Al-Bukhari (no. 15), Muslim (no. 44), Ahmad (III/275) dan an-Nasa-i (VIII/114-115), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu)
Sering kali manusia mengaku cinta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun ia tidak mengetahui bahwa konsekuensi mencintai Rasulullah adalah dengan meneladaninya, menjalankan sunnah-sunnahnya. Beribadah sebagaimana ia beribadah. Tapi mereka, tidak pernah melaksanakan sunnah-sunnahnya. Bahkan mempelajarinya pun tidak. Orang-orang seperti ini biasanya orang-orang yang terjerumus ke dalam maksiat. Maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Atau jenis lainnya, mereka berlebihan dalam mencintai Rasulullah. Mereka menyejajarkan Rasulullah dengan Allah, bahkan melebihi Allah. Orang-orang ini adalah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan. Sebagaimana yang telah dibahasa.
Atau mereka mengangungkan Rasulullah dengan cara-cara mereka tanpa memerhatikan sunnah-sunnahnya, tanpa memerhatikan apakah amalan yang mereka pernah diamalkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya Radiyallahu ‘anhuma. Ataukah amalan mereka termasuk amalan yang dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya Radiyallahu ‘anhuma. Dan orang-orang dalam golongan ini adalah orang-orang yang terjerumus ke dalam lembah kebid’ahan.
Dan tidaklah orang-orang yang melakukan perbuatan bid’ah-mengadakan maulid nabi, isra’ mi’raj, atau dzikir berjama’ah- berada dalam kebenaran. Allah telah berfirman bahwa Agama islam telah sempurna. Maka apakah hak kita untuk menambahnya?
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 3)
Dan tidak patut bagi kaum muslimin untuk mendustakan ketetapan Allah dan Rasul-Nya
“Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” [Al-Ahzab : 36]
Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur-an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam (As-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.
[info lengkap mengenai definisi bid'ah baca di sini]
Maka jauhilah bid’ah wahai saudaraku, karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya tidak menyukainya.
Dan jadilah muslim seutuhnya dengan meng-Esakan-Nya, menjalani segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami para sahabat. Karena sebaik-baik generasi adalah generasainya para sahabat. sebagaimanha Rasulullah bersabda
“Artinya : Sebaik-baik manusia ialah generasiku, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka lagi”. (Shahih Muslim, Kitab Fadhail Ash-Shahabah, Bab Fadlish Shahabah Radhiyallahu anhum Tsumma Al-Ladzina Yaluunahum 16: 86).
Alhamdulillah. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullah.






wahyu kresna said,
June 13, 2009 @ 7:18 am
amin., semoga bermanfaat.
araralututu said,
June 13, 2009 @ 4:23 pm
amin.